“Tangan atau, kamu yang terpesona oleh kecantikannya” sindir Dina. Boleh nggak kita gabung duduknya?” tanya Dina sambil tersenyum. Bokeb Seminggu setelah pertemuanku dengan Ananda di cafetaria. “Baiklah kalau menurut kamu begitu” jawab Ananda kemudian. Di tengah asyiknya aku menikmati makanan, tiba-tiba telah berdiri temanku yang bernama Dina dan seorang yang telah membuatku terpaku sebelumnya. Tak mengherankan jika, kalau Ananda mendapatkan kasih sayang secara penuh baik dari papanya dan juga Mamanya. “Boleh-boleh… Lagian aku sendirian kok” sahuntuku meyakinkan. “Semua itu benar adanya, apalagi dengan kamu memberikan sebuah lagu romantis buat diriku saat malam tadi” dengan lembut Ananda mengatakan itu. “Adietya!” kataku pendek.




















